Serang, (infoparlemen.co.id) – Di tengah gegap gempita pembangunan, baliho program pendidikan gratis, dan pidato panjang soal “generasi emas 2045”, ada pemandangan yang menampar nurani siapa pun yang mau menengok ke bawah, sekelompok anak kecil belajar di pinggir jalan. Bukan di ruang ber-AC, bukan di gedung sekolah bertingkat, tapi di trotoar, di bawah cahaya lampu jalan yang redup.
Mereka menamai tempat itu Sekolah Pinggir Jalan (SPJ) sebuah komunitas kecil yang hidup dari rasa peduli, bukan dari anggaran negara. Setiap Senin dan Kamis, tepat pukul 17.00 sore, deru kendaraan di Jl. Jenderal Ahmad Yani No.196–198, Sumurpecung, Kota Serang, berpadu dengan tawa anak-anak yang mulai menggelar tikar lusuh. Dari kejauhan, mungkin tak terlihat istimewa. Tapi di antara suara klakson dan debu jalanan, di sanalah ilmu pengetahuan dan kasih sayang tumbuh dengan cara paling sederhana, melalui niat tulus untuk berbagi.
Anak-anak itu datang tanpa seragam, tanpa uang saku, tanpa tas mewah berlogo sekolah ternama. Beberapa datang masih mengenakan pakaian kerja, baju kotor karena baru selesai membantu orang tua memulung, berdagang, atau sekadar mengamen di lampu merah. Tapi semangat mereka tak kalah dengan siswa di sekolah elite. Mereka menunggu para relawan dengan sabar, berharap pelajaran hari itu bisa menambah sedikit ilmu dan banyak harapan.
“Yang penting anak-anak senang dan tidak lupa cara membaca,” ujar salah satu relawan SPJ sambil menyiapkan papan tulis kecil dan beberapa kapur. Tak ada kurikulum baku, tak ada rapor, tak ada target nilai. Semua berjalan apa adanya, mengalir mengikuti kebutuhan anak-anak. Kadang belajar berhitung, kadang membaca huruf hijaiyah, kadang sekadar mendengar cerita tentang cita-cita.
Di sela-sela kegiatan belajar, relawan juga membawa air minum kemasan makanan ringan hasil urunan pribadi. Begitu makanan dibagikan, wajah-wajah kecil itu langsung berseri. Ada rasa syukur yang jujur dari wajah kecil mereka.
Namun di balik kehangatan itu, tersimpan ironi yang dalam. Bagaimana mungkin, di negeri yang katanya kaya akan sumber daya dan menjunjung tinggi pendidikan, masih ada anak-anak yang harus belajar di trotoar? Di saat sebagian pejabat sibuk bicara soal digitalisasi pendidikan dan anggaran triliunan, di sisi lain, masyarakat kecil menambal celah kegagalan negara dengan tenaga dan empati.

Sekolah Pinggir Jalan menjadi bukti nyata bahwa masyarakat masih lebih sigap daripada sistem. Mereka hadir bukan karena ingin melawan negara, tapi karena negara terlalu sering absen di tempat-tempat seperti ini. Pendidikan seharusnya menjadi hak, bukan keberuntungan. Tapi di lapangan, banyak anak justru “beruntung” kalau ada yang mau mengajari mereka, meski hanya di bawah sinar lampu jalan.
Malam semakin larut, kendaraan terus melintas, tapi kegiatan belajar tetap berjalan. Ada tawa, ada semangat, ada kehidupan. Di tengah kebisingan kota, suara kecil seorang anak terdengar jelas.
Negara boleh terus bangga dengan slogan-slogan indah dan target besar, tapi selama masih ada anak-anak yang belajar di bawah trotoar demi sekadar mengenal huruf dan angka, maka “mencerdaskan kehidupan bangsa” masih sebatas janji di kertas konstitusi.

