Infoparlemen.co.id — Di balik semangat revolusi dan pekik kemerdekaan, Indonesia muda diam-diam bergantung pada bisnis yang kini dianggap tabu, perdagangan candu.Di tengah kekosongan kas negara dan kekacauan ekonomi, candu warisan pahit masa kolonial berubah menjadi “penyelamat” keuangan yang ironis.

Scroll Untuk Lanjut Membaca

Saat Belanda hengkang, Indonesia tidak hanya mewarisi kerusakan ekonomi dan politik, tetapi juga sistem monopoli candu yang telah mengakar kuat. Gudang-gudang opium, jaringan pengedar resmi, hingga pasar konsumen aktif masih bertebaran dari Sumatra hingga Jawa.

Dengan kondisi negara baru yang nyaris tanpa sumber daya, para pemimpin republik menghadapi dilema membiarkan candu menghilang bersama kolonialisme, atau memanfaatkannya demi kelangsungan perjuangan. Pilihan yang diambil? Candu diatur ulang dijual terbatas, dikendalikan negara, dan hasilnya masuk ke kas revolusi.

Namun, dalam praktiknya, kontrol atas candu lebih banyak bocor ke jalur gelap. Pejuang, aparat, dan pedagang oportunis memanfaatkan situasi. Candu diperdagangkan sembunyi-sembunyi untuk membeli senjata, membiayai pasukan, bahkan memperkaya diri.

Kasus-kasus penyelundupan candu merebak di kota-kota pelabuhan seperti Medan, Padang, Surabaya, dan Makassar. Di Sumatra, laporan menyebutkan transaksi candu bahkan lebih stabil dibanding mata uang resmi.

Skandal besar meledak pada tahun 1950 di Medan, ketika operasi penyelundupan candu melibatkan tokoh-tokoh sipil dan militer. Desakan publik pun menguat, Indonesia harus segera memutus ketergantungan terhadap “bisnis haram” peninggalan kolonial.

Pemerintah Republik merespons dengan membentuk unit pemberantasan penyelundupan dan merilis serangkaian peraturan keras seperti pelarangan total perdagangan candu bebas, penertiban terhadap pecandu lama dengan program rehabilitasi paksa, dan operasi penggerebekan besar terhadap sindikat candu domestik dan luar negeri.

Dalam beberapa tahun, candu yang sempat dianggap “penopang darurat”, dihapuskan dari sistem resmi. Pemerintah berusaha membangun ekonomi nasional melalui jalur-jalur bersih, seiring dengan kampanye moral yang mendesak masyarakat untuk “bersih dari warisan penjajahan.”

Kini, sejarah mencatat. Kemerdekaan Indonesia berdiri di atas semangat perjuangan,namun sebagian pula, dengan uang yang bau asap candu.