
Pagi itu, Arsyila berdiri mematung di depan gedung Universitas Pamulang (UNPAM) sedikit lebih lama dari yang ia rencanakan. Tas tersampir di bahu, jemarinya menggenggam ponsel tanpa benar-benar melihat layarnya. Di sekelilingnya, arus mahasiswa mengalir cepat, bibir mereka bergerak lincah dalam percakapan yang tak terdengar, tawa yang meledak tanpa suara, dan kesibukan yang bagi Arsyila hanyalah sebuah koreografi visual yang kompleks.
Dari luar, kampus tampak begitu hidup dan penuh gairah. Namun, dari titik tempat Arsyila berdiri, semuanya terasa tenang dan hening. Ia menarik napas panjang, sebuah ritual kecil untuk mengumpulkan keberanian sebelum melangkah masuk. “Ini awalnya,” bisiknya dalam hati.
Arsyila adalah satu dari sekian banyak mahasiswa disabilitas yang memilih UNPAM sebagai tempat merajut mimpi. Kehadirannya di sini bukan sekadar kebetulan, melainkan hasil dari komitmen institusi yang berupaya meruntuhkan tembok penghalang akses pendidikan melalui visi humanis dan religius.
Beberapa hari sebelum perkuliahan resmi dimulai, Arsyila sudah lebih dulu mendatangi kampus. Bukan untuk masuk kelas, melainkan mengikuti pelatihan khusus yang diselenggarakan oleh Lembaga Layanan Disabilitas (LLD) UNPAM. Ruangannya tidak besar, namun cukup untuk menjadi sebuah sanctuary atau ruang aman bagi Arsyila.
Di sana, ia duduk di antara orang-orang yang memiliki pengalaman sensorik serupa. Mereka mendengarkan penjelasan tentang sistem perkuliahan dan dukungan kampus dengan cara mereka masing-masing, tanpa ada tekanan untuk menjadi “istimewa”. “Yang ada hanya pengakuan bahwa saya punya hak yang sama sebagai mahasiswa,” kenangnya. Pelatihan ini memberinya pijakan mental yang kuat untuk menghadapi hari-hari berikutnya.
Ujian sesungguhnya tiba pada hari pertama kuliah. Arsyila melangkah ke ruang kelas Manajemen yang sudah hampir penuh. Ada getaran kecil di tangannya saat merapikan buku, sebuah manifestasi dari kecemasan yang manusiawi. Saat dosen mulai berbicara, ruangan dipenuhi suara, namun bagi Arsyila, yang tertangkap hanyalah gerak bibir dan slide presentasi yang berpindah cepat.
Ia menatap layar tanpa berkedip, berusaha menangkap setiap informasi melalui tulisan. Ada momen ketika kepalanya terasa penuh akibat kelelahan kognitif sebuah kondisi yang sering dialami mahasiswa tuli saat harus terus-menerus memproses informasi visual secara intensif. Namun, Arsyila memutuskan untuk tidak lagi diam.
Di tengah kelas, ia mengangkat tangan gerakan kecil, bemakna besar. Ia meminta penggunaan mic clip agar penjelasan dosen bisa ditranskripsikan secara langsung ke layar melalui sistem bantuan teknologi. Dosen mengangguk paham dan menyesuaikan diri. Saat teks mulai muncul, Arsyila mencondongkan badan ke depan. Kata demi kata di layar itu terasa seperti pijakan kokoh yang membuatnya tidak lagi merasa tertinggal.
Di luar kelas, inklusi di UNPAM tidak hadir dalam bentuk rasa kasihan, melainkan dalam “kewajaran”. Teman-teman menyapa Arsyila dengan senyum sederhana, anggukan, atau lambaian tangan. Tidak berlebihan dan tidak canggung. Baginya, cara inilah yang paling ia sukai karena terasa sangat manusiawi.
Arsyila juga mulai aktif dalam dinamika organisasi. Ia bergabung dengan Unit Kegiatan Mahasiswa Disabilitas (UKMD), tempat ia bertemu dengan rekan-rekan yang aktif mengoordinasikan kegiatan bagi mahasiswa disabilitas. Melalui UKMD dan perayaan Gebyar Hari Disabilitas Internasional (HDI), ia menemukan rasa dipahami yang tumbuh dengan sendirinya.
Keterlibatannya dalam berbagai kegiatan, mulai dari pelatihan penulisan jurnal akademik hingga sosialisasi sistem e-learning Mentari, menunjukkan bahwa keterbatasan pendengaran bukanlah penghalang untuk berprestasi di bidang akademik maupun organisasi.
Suatu sore, sebuah pengumuman di ponsel membuat dadanya terasa hangat. Nama Arsyila tertera sebagai penerima beasiswa disabilitas. Bukan ledakan bahagia yang ia rasakan, melainkan rasa lega yang sangat dalam. Beasiswa ini adalah bentuk nyata dari program “Berbagi Untuk Negeri” UNPAM yang memberikan pendidikan gratis bagi penyandang disabilitas tunarungu, netra, dan daksa.
Dukungan finansial ini memvalidasi pilihannya untuk menempuh pendidikan tinggi, menegaskan bahwa universitas benar-benar hadir untuk “menyingkirkan” penghalang bagi mereka yang ingin maju.
Kini, Arsyila masih berada di semester awal. Ia mengakui masih sering merasa lelah dan harus terus menyesuaikan diri. Namun, keraguan itu telah sirna. Ia telah menerima bahwa menjadi tuli adalah bagian dari hidupnya, dan menjadi mahasiswa adalah bagian dari pilihan sadarnya.
”Saya belajar bahwa sunyi tidak selalu berarti kekurangan. Kadang, sunyi adalah ruang untuk tumbuh,” ungkapnya.
Di koridor-koridor UNPAM, Arsyila terus melangkah pelan tapi pasti. Ia membuktikan bahwa di kampus yang inklusif, seseorang tidak perlu bersuara keras hanya untuk dianggap ada. Kehadirannya, prestasinya, dan kegigihannya telah berbicara jauh lebih lantang dari kata-kata manapun. (Red)

