‎(Ditulis oleh : Heri Hasugian – Infoparlemen.co.id)


‎”Kalau kamu berhenti kuliah, kamu mau jadi apa?”
‎Pertanyaan itu, terlontar dari sang ibu, menjadi batu ujian bagi Dzikri Tri Isnawan, seorang pemuda asal Pontang, Kabupaten Serang, yang kala itu memilih jalur hidup berbeda dari garis keturunan akademisi keluarganya.

‎Lahir dan dibesarkan dalam keluarga pengajar, di mana gelar sarjana hingga magister seolah menjadi standar, Dzikri justru mendapati panggilan hidupnya bukan di balik meja kuliah, tetapi di balik cermin barbershop. Bukan dalam ruangan kuliah yang penuh teori, melainkan di ruang kecil tempat gunting dan clipper berbicara dengan gaya.

‎Kecintaannya pada dunia barber tidak datang tiba-tiba. Semua bermula dari pengalaman sederhana sebagai pelanggan. Ia memiliki barber langganan bernama Fahru pria asli Mancak yang bekerja di barber Papa Jim. Sosok Fahru meninggalkan kesan mendalam. Penampilannya rapi, beraroma wangi, tempatnya bersih, dan caranya melayani pelanggan pun sangat komunikatif.

‎“Saya pikir, ternyata ada profesi tukang cukur yang begitu profesional dan berkelas. Tidak semua mengenakan sandal jepit dan celana pendek. Dari situ, benih ketertarikan saya tumbuh,” kenang Dzikri.

‎Namun pilihan itu tidak datang tanpa konsekuensi. Setelah menempuh pendidikan di pondok pesantren dan menyelesaikan SMA, Dzikri mendapatkan beasiswa untuk berkuliah di STIE SEBI Parung Panjang, Bogor. Di tengah perjalanan kuliah, gejolak batin dan hasrat untuk bebas membuatnya mengambil keputusan besar, yaitu berhenti dan memilih mendalami dunia barber.

‎Keputusan tersebut mendapat penolakan keras dari orang tua. Bagi mereka, profesi tukang cukur bukanlah jalur masa depan yang menjanjikan, apalagi dalam keluarga yang telah terbiasa hidup dalam lingkungan akademis. Namun, Dzikri tidak sendiri. Ia mendapat sokongan penuh dari kakak keduanya, sosok yang kemudian menjadi pilar dalam perjalanannya membangun karier.

‎Dengan dukungan tabungan sang kakak, pada Agustus 2017, Dzikri resmi membuka barbershop pertamanya D’wonten Barbershop. Lokasinya berada di kampung Tembakang, Desa Pulokencana, Pontang. Sebuah wilayah yang kala itu bahkan belum mengenal istilah barbershop.

‎“Masyarakat waktu itu sempat bertanya, ‘Barbershop itu apa? Tempat pijat? Tempat kebugaran?’” tuturnya sambil tersenyum.

Scroll Untuk Lanjut Membaca

Barbershop D’wonten, Alamat :
Citerep, Kec. Ciruas, Kabupaten Serang, Banten


‎Tidak mudah membangun kepercayaan. Dzikri menyebar brosur dari sekolah ke sekolah, memperkenalkan tidak hanya usaha barunya, tetapi juga budaya barbershop yang menjunjung tinggi estetika, kebersihan, dan pelayanan prima.

‎Di hari-hari awal, pelanggan datang hanya satu-dua orang. Namun Dzikri tak gentar. Ia sadar, mimpi besar tak dibangun dalam semalam. Ketekunan menjadi bahan bakar, dan cintanya terhadap profesi menjadi penopang utama. “Meski pelanggan sedikit, saya menjalani dengan sepenuh hati. Karena di situ saya menemukan makna,” ujarnya mantap.

‎Bagi Dzikri, menjadi tukang cukur bukanlah soal memotong rambut semata. Ini tentang memahami karakter, membangun komunikasi, dan memberi solusi estetis yang sesuai dengan kepribadian pelanggan.

‎“Tukang cukur itu seharusnya mampu mengarahkan, bukan hanya mengikuti. Saya tidak ingin pelanggan pulang dengan rasa kecewa. Maka saya berikan pendapat profesional, agar hasilnya benar-benar membuat mereka puas.”

‎Gaya ini menjadi kekuatan utama D’wonten. Tidak hanya model potongan, tetapi juga styling dan pendekatan personal yang membuat pelanggan merasa dihargai dan dilayani.

‎Tahun 2020 menjadi titik balik berikutnya. Saat dunia dilanda pandemi dan banyak bisnis bertumbangan, Dzikri justru mendapat peluang emas. Seorang pelanggan yang terkesan dengan pelayanannya menawarkan investasi untuk membuka cabang di Ciruas. Di tengah ketidakpastian global, D’wonten Barber justru berkembang.

‎Tak hanya secara bisnis, secara pribadi pun Dzikri tumbuh. Ia kini sukses menjalankan kedua barber nya tersebut yang berada di Pontang dan di Ciruas, dan ia juga kembali melanjutkan kuliahnya di Universitas Pamulang Serang sebagai bentuk penghormatan kepada orang tua, dan tahun ini pula ia akan meminang pujaan hatinya. Sebuah babak baru tengah menantinya, namun akar perjuangannya tetap sama bahwa semangat untuk membuktikan bahwa profesi apapun, jika dijalani dengan tekun dan cinta, akan menemukan kemuliaannya.

‎Penutup : Perjalanan Dzikri mengajarkan kita satu hal penting. Bahwa tak semua orang harus melalui jalan yang sama untuk mencapai makna hidup. Bahwa keberhasilan bukan hanya milik mereka yang mengenakan toga, tapi juga mereka yang memegang erat prinsip, keberanian, dan konsistensi.



‎Bagi generasi muda yang hari ini masih ragu memilih jalan hidupnya, kisah Dzikri adalah pengingat bahwa pilihan pilihan yang tampak sederhana asal dibarengi keyakinan dan kerja keras bisa menjelma menjadi kisah besar.