Muhammad Farrel Brastama – Mahasiswa Unpam PSDKU Serang


‎Oleh : Muhammad Farrel Brastama

‎Berbicara mengenai masa depan Indonesia, kita mungkin memiliki kekayaan sumber daya alam yang melimpah bahkan menjadi salah satu negara yang memiliki sumber daya alam terbesar di dunia. Tetapi tanpa pendidikan yang memadai, semuanya akan terasa lemah. Dalam agenda global, telah menetapkan Sustainable Development Goals ( SDG’s) salah satunya, Goal 4: Quality Education. Tujuan ini jelas yang berarti: menjamin akses pendidikan yang adil, inklusif, dan berkualitas. Di Indonesia, semangat itu sejalan dengan visi menuju Indonesia Emas 2045 sebuah cita-cita agar disaat 100 tahun kemerdekaan nanti, bangsa ini berdiri sejajar dengan negara-negara maju.

‎Kita sering mendengar kalimat “Pendidikan adalah kunci masa depan” Namun, dalam kenyataannya, kunci itu belum sepenuhnya kita genggam kuat. Masih banyak anak-anak di pelosok negeri yang harus berjalan jauh untuk bersekolah bahkan beresiko bertaruh nyawa karena kondisi yang membahayakan seperti jembatan rusak sehingga menyebrangi sungai dengan cara bergelantungan di tali jembatan atau melewati arus sungai, serta masih banyak guru yang berjuang dengan fasilitas yang terbatas. Kualitas pendidikan kita masih belum merata, kesenjangan antarwilayah masih terasa. Pendidikan adalah investasi jangka panjang yang menjadi jantung dari kemajuan sebuah bangsa. Tidak ada negara maju tanpa rakyat yang terdidik. Pendidikan yang baik adalah pendidikan yang tidak meninggalkan siapapun. Artinya, anak dari keluarga miskin, penyandang disabilitas, dan mereka yang tinggal di wilayah terpencil, semuanya punya hak yang sama untuk belajar. Hak atas pendidikan sebagaimana diatur dalam pasal 31 ayat (1) – (5) UUD 1945.
‎Perjalanan menuju pendidikan bermutu di Indonesia masih panjang. Upaya pendidikan yang bermutu tidak dapat diwujudkan oleh satu aktor tunggal. Kolaborasi stakeholder yang mencakup pemerintah, akademisi, sektor swasta, masyarakat, dan media massa menjadi kerangka penting dalam kolaborasi pembangunan pendidikan. Berikut penjelasannya:

‎1. Pemerintah yang berperan sebagai pengaruh utama kebijakan yang menetapkan standar nasional pendidikan, penyediaan dana, serta memastikan akses yang dialokasikan merata.

‎2 Akademisi berperan sebagai produsen ilmu pengetahuan, inovasi, dan sumber daya manusia. Dunia pendidikan harus memperkuat kurikulum yang kontekstual dan membangun karakter.

‎3 Sektor swasta berkontribusi dalam peningkatan keterampilan kerja dan kesiapan industri. Dunia kerja juga dapat menjadi laboratorium pembelajaran nyata bagi siswa yang akan menjadi calon pekerja untuk memahami dinamika profesional dan etika kerja.

‎4. Masyarakat berpartisipasi dalam memberikan aspirasi, ide, dan kritik dalam penyusunan program agar sesuai dengan kebutuhan rill di lapangan. Terlibat dalam kegiatan gotong royong seperti komunitas masyarakat yang berkontribusi dalam kegiatan pendidikan salah satunya sekolah pinggir jalan gratis.

‎5. Media massa berperan membangun kesadaran publik tentang pentingnya pendidikan bermutu bagi masa depan bangsa.

‎Kolaborasi ini bukan hanya kerja proyek, tetapi membangun kesadaran bahwa pendidikan adalah urusan bersama. Contoh keberhasilan kolaborasi ini sudah mulai terlihat. Program Kampus Merdeka, misalnya, membuka ruang kerja sama antara universitas dan industri, sehingga mahasiswa tidak hanya belajar teori, tapi juga mengalami dunia kerja secara langsung.

‎Indonesia tidak kekurangan potensi, hanya perlu kesungguhan untuk menjadikan pendidikan sebagai pembentukan utama sumber daya manusia. Visi itu hanya bisa dicapai jika pendidikan menjadi prioritas bersama, bukan sekedar jargon politik saja. Melalui pendidikan bukan hanya soal memenuhi target global, tetapi soal menyelamatkan masa depan bangsa sendiri. Jika kita ingin Indonesia benar-benar emas tahun 2045, maka investasi terbaik yaitu melalui pendidikan yang bermutu dan merata seperti akses jalan yang memadai, fasilitas di sekolah yang lengkap, dan kurikulum yang baik. Karena sesungguhnya masa depan Indonesia tidak sedang menunggu di tahun 2045. Ia sedang tumbuh hari ini di setiap ruang kelas, di setiap guru yang mengajar dengan hati, dan setiap anak yang berani bermimpi lebih tinggi dari generasinya.

Scroll Untuk Lanjut Membaca