Banten, (infoparlemen.co.id) – Dalam masyarakat Jawa abad ke-19, berkata “tidak” pada tradisi berarti siap dicap durhaka. Tapi itulah yang dilakukan Raden Ajeng Kartini. dengan pena, pendidikan, dan keberanian, ia melawan budaya yang membelenggu perempuan tanpa harus berteriak.

Scroll Untuk Lanjut Membaca

Lahir sebagai anak bangsawan, Kartini seharusnya hidup nyaman dalam istana adat dan norma. Namun, kenyamanan itu justru menjadi penjara. Di usia 12 tahun, ia dipingit—tidak boleh lagi bersekolah atau keluar rumah. Bagi perempuan kala itu, pingitan adalah takdir yang tak bisa digugat. Tapi Kartini bertanya: Mengapa?

Kartini tidak berteriak di jalan. Ia tidak berdemo. Tapi dari balik kamar pingitannya, ia menulis surat-surat yang mengguncang dunia. Kepada sahabat-sahabatnya di Eropa, ia mencurahkan kekecewaan, harapan, dan mimpi tentang dunia di mana perempuan bisa berpikir dan memilih.

“Saya ingin bebas. Saya ingin belajar. Saya ingin menjadi manusia,” tulisnya.

Kalimat-kalimat itu bukan sekadar curhatan, tapi penolakan halus terhadap budaya yang menempatkan perempuan hanya sebagai pelengkap laki-laki. Kartini menolak menjadi hiasan. Ia memilih berpikir.

Dalam beberapa suratnya, Kartini mengkritik keras pernikahan paksa, sistem kasta, dan perlakuan diskriminatif terhadap perempuan. Ia tahu, semua itu dilakukan atas nama tradisi dan kehormatan keluarga.

Namun, justru dari dalam struktur itu, ia berani bicara. Tak seperti pemberontak yang menolak bangsanya, Kartini mencintai tradisi Jawa—namun ia ingin meluruskannya. Perempuan, menurutnya, juga pantas mendapat pendidikan, pekerjaan, dan hak untuk memilih jalan hidupnya.

Perlawanan Kartini tidak berhenti di kertas. Setelah menikah, ia mendirikan sekolah untuk perempuan di Jepara dan Rembang. Ia ingin perempuan bisa belajar membaca, berpikir kritis, dan berdiri sejajar dengan laki-laki—bukan karena ingin menjadi laki-laki, tapi karena ingin menjadi manusia yang utuh.

Kartini meninggal muda, namun ide-idenya tidak padam. Surat-suratnya diterbitkan dalam buku Habis Gelap Terbitlah Terang, yang menjadi semangat bagi perjuangan emansipasi perempuan Indonesia.

Hari ini, Kartini sering diperingati dengan lomba kebaya dan pawai bunga. Tapi yang paling penting bukan penampilannya, melainkan nyalinya untuk berkata ‘tidak’ kepada ketidakadilan yang dibungkus tradisi.